KISAH: Kolonel Polisi Drs. Wiwil Sukanto
Dua Perwira Bertemu dalam Satu Keimanan
Disarikan dari buku Mengapa Saya Bai’at dan Bergabung Dalam Jemaat Ahmadiyah
Dalam perjalanan menuju rumah sakit Gatot Subroto Jakarta menggunakan mobil dinas Jeep Toyota kanvas yang dikendarai Mayor Pol. Drs. Irhamsyah, Kol. Pol. Drs. Wiwil Sukanto yang baru sadar dari keadaan koma mengalami pengalaman rohani yang membekas di pertengahan bulan Juni 1978. Dalam pengalaman rohani itu, Wiwil melihat langit-langit mobil yang membawa tubuhnya menjadi terang benderang seperti sebuah layar televisi.
Di atas permukaan cahaya terang itu, Wiwil melihat tulisan berhuruf Arab dengan kalimat “Asyhadu alaa Ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Sejenak kemudian muncul lagi tulisan Al-Qur’an – Hadits. Setelah itu secara bergantian muncul tulisan – tulisan “ Janganlah engkau mati sebelum Islam”, “Dunia belum kiamat”, dan “Hidup manusia itu ibarat sebuah buku, buku dibuka seperti manusia baru lahir dan buku ditutup seperti manusia mati dan suatu waktu nanti akan dibuka kembali”.
Salah satu tulisan dari pengalaman rohani yang sangat mengganggu pikiran Wiwil adalah kalimat “ Janganlah engkau mati sebelum Islam”. Menurut Wiwil, tulisan ini terasa sangat ganjil jika ditujukan pada dirinya. Pasalnya Wiwil merasa bahwa dirinya selama ini telah menjadi seorang Muslim.
Paska sembuh dari sakit yang dideritanya, Wiwil mulai gandrung mempelajari Al-Qur’an, Hadits dan hukum-hukum agama Islam. Dari salah satu buku yang pernah dibaca Wiwil, buku berjudul Godaan Syaitan, terdapat Hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Sepeninggalanku nanti Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan akan masuk neraka, dan satu golongan akan masuk surga”. Dalam buku itu pun disebutkan bahwa yang masuk surga adalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Sejak saat itu Wiwil mulai mencari golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah dengan jalan mendatangi para ulama dan imam-imam mesjid yang dipandangnya mengerti betul tentang ilmu agama. Akan tetapi, setiap kali Wiwil bertanya kepada para ulama dan imam mesjid yang ditemuinya perihal siapa Ahli Sunnah Wal Jama’ah itu?, lalu dijawab “kami-lah Ahli Sunnah wal Jama’ah”, Wiwil selalu merasa hati kecilnya menyangkal.
Masa perburuan Ahli Sunnah wal Jama’ah itu terus berlangsung dari tahun ke tahun, dari tempat tugasnya di Sulawesi Selatan hingga Aceh. Bahkan ketika Wiwil mendapat karunia menunaikan ibadah haji ke Makkah Al Mukarammah di tahun 1984 pun, dirinya tidak merasa menemukan identitas Ahli Sunnah Wal jama’ah yang sebenarnya.
Hari Rabu, tanggal 3 Juni 1998, di ruang Kasub Lit Ops Dislitbang Polri, Wiwil berdebat seru dengan Kol. Pol. Abdulah Sukanto, yang saat itu menjabat sebagai Kasub Lit Ops Dislitbang Polri, tentang orang yang mengaji tanpa guru adalah syaitan. Di tengah perdebatan itu muncul Kol. Pol. (Purn) Drs. Willy Widarma yang sempat memberi komentar sedikit lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Karena tidak menemukan titik temu dalam dialog seru itu, Wiwil kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan kesal. Tak berapa lama datang Kol. Pol. (Purn) Drs. Willy Widarma ke ruangan Wiwil lalu bertanya perihal dialog itu. Mendengar pertanyaan itu Wiwil menjawab bahwa dirinya tidak merasa puas dengan dialog itu. Malah sebaliknya Wiwil disuruh Abdulah Sukanto untuk mengaji ke Kedung Halang, Bogor.
Kemudian Wiwil bertanya kepada Willy Widarma tentang identitas Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Mendapatkan pertanyaan Wiwil, Willy Darma menjelaskan tentang arti kalimat Ahli Sunnah wal Jama’ah itu sendiri. Menurut Willy kalimat Ahli Sunnah wal Jama’ah itu terdiri dari kata-kata Ahli (yang artinya mengerti, mengetahui benar, pandai & trampil), Sunnah(artinya semua tingkah laku, sabda-sabda, bahkan diamnya Rasulullah Muhammad saw.), Wal (artinya dan), dan Jama’ah (artinya berkumpul atau bersatu dibawah kepemimpinan seorang Imam).
Willy menjelaskan pula bahwa berjama’ah itu artinya harus memiliki imam dan makmum. Imam tersebut harus bersifat internasional dan harus ditaati oleh makmumnya di seluruh dunia. Untuk saat ini yang memiliki imam yang bersifat internasional hanya Jemaat Ahmadiyah. Imam Jemaat Ahmadiyah itu adalah penerus Imam Mahdi Rasulullah Muhammad (saw), pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as).
Mendengar nama pendiri Jemaat Ahmadiyah disebut Wiwil langsung berkata bahwa menurut para ulama, pendiri Jemaat Ahmadiyah itu adalah pengacau.
Akan tetapi ketika dijelaskan oleh Kol. Pol. (Purn) Drs. Willy Darma tentang siapa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as.) itu sebenarnya, Wiwil mulai penasaran.
Dalam penjelasannya Willy Darma mengatakan, Hadhrat Ahmad (as.) adalah satu-satunya manusia di zaman ini yang mengaku sebagai Isa Ibnu Maryam dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dikabargaibkan oleh Rasulullah Muhammad saw.
Willy Darma pun mengutip sebuah hadits yang mengatakan bahwa apabila seseorang tidak mengenal imam di zamannya ketika ia masih hidup, maka jika orang itu mati, matinya seperti mati orang jahiliyah. Hadist ini diperkuat dengan hadits-hadits lainnya yang menyebutkan bahwa di setiap seratus tahun Allah Ta’ala akan membangkitkan seorang mujadid diantara Umat Islam. Willy pun menyebutkan beberapa nama imam besar yang hidup beberapa ratus tahun yang lalu, seperti Imam Ghazali rh, Imam Suyuti rh dan Syekh Abdul Qadir Jaelani rh, yang di masa hidupnya merupakan imam zaman dan juga sebagai mujadid atau pembaharu.
Willy Darma menegaskan bahwa dirinya yang sudah menjadi seorang Ahmadi mempercayai bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as) adalah Imam dan Mujadid di zaman sekarang, yang oleh Allah Ta’ala diberi gelar Imam Mahdi dan Isa ibnu Maryam.
Mendengar penjelasan singkat tentang pendiri Ahmadiyah dari anggota Ahmadiyah secara langsung, Wiwil berubah sikap. Wiwil mengaku bahwa perubahan sikap itu hanya mengikuti kata hatinya saja. Wiwil merasa bahwa pendiri Jemaat Ahmadiyah itu benar – benar utusan dari Allah Ta’ala. AkhirnyaWiwil percaya bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as) sebagai Imam Mahdi dan Nabi Isa yang dijanjikan oleh Rasulullah Muhammad (saw).
Setelah selesai berdialog, Willy Darma meninggalkan ruang kerja Wiwil dan berjanji akan meminjamkan buku tentang Ahmadiyah kepadanya.
Keesokan harinya, Kol. Pol. (Purn) Drs. Willy Darma memberikan sebuah buku tua kepada Wiwil. Tebal buku tersebut 429 halaman karya Maulana Haji Rahmat Ali HAOT, Mubaligh Ahmadiyah pertama untuk Indonesia.
Dalam hitungan beberapa hari saja buku tebal itu sudah selesai dibaca. Setelah membaca buku itu Wiwil bertanya-tanya, bagian manakah yang telah menyebabkan pendiri Jemaat Ahmadiyah itu layak disebut sebagai pengacau?.
Hati Wiwil semakin yakin akan kebenaran klaim pendiri Jemaat Ahmadiyah yang menyatakan diri sebagai Imam Mahdi dan Isa Ibnu Maryam setelah membaca syarat-syarat baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Wiwil semakin yakin bahwa dirinya sudah menemukan Ahli Sunnah wal Jamaah yang selama ini ia cari-cari.
Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1998, ditemani tetangga rumahnya yang bernama Bang Mamat, Wiwil pergi mencari masjid Ahmadiyah di Kemang, Bogor. Sepanjang jalan Parung – Bogor Wiwil terus bertanya dimana letak mesjid Jemaat Ahmadiyah.
Setelah cukup banyak bertanya dan sampai di sebuah warung es kelapa muda yang posisinya beberapa puluh meter di samping kanan gerbang Kampus Mubarak, Wiwil berdo’a kepada Allah Ta’ala meminta petunjuk dimanakah letak mesjid Jemaat Ahmadiyah itu agar dirinya bisa menunaikan perintah-Nya untuk mengikuti jalan yang benar.
Tak berapa lama do’a Wiwil dikabulkan oleh Allah Ta’ala dengan datangnya seseorang penjual layang-layang yang menunjukkan lokasi mesjid Jemaat Ahmadiyah.
Di dalam Kampus Mubarak, dihadapan Amir Nasional waktu itu, Kolonel Laut Muhammad Lius Ma’ala, Kolonel Polisi Drs. Wiwil Sukanto mengucapkan janji baiatnya untuk bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah.
Kolonel Polisi Drs. Wiwil Sukanto lahir di Ambon pada tanggal 8 Januari 1947. Beliau mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu kepolisian dan Sespanas Lan Promosi IV A.
Beliau pernah ditugaskan di Kapolda Maluku, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Aceh dan terakhir di Mabes Polri Jakarta.
Di tahun 2003, Kolonel Polisi Drs. Wiwil Sukanto berpulang ke rahmatullah dengan meninggalkan kesan mendalam dari para Ahmadi yang mengenalnya.
Beliau dikenal sebagai mubayyin baru yang ‘gila’ tabligh. Semasa hidupnya yang singkat sebagai seorang Ahmadi, Kol. Pol. Drs. Wiwil Sukanto pernsh membuka lahan pertablighan di beberapa lokasi seperti di Sukabumi, Cigudeg – Bogor, hingga Banten.
Pada Jalsah Salanah Nasional tahun 2000, ketika Hadhrat khalifatul masih IV Mirza Tahir Ahmad rh) berkunjung ke Indonesia, Kol. Pol. Drs. Wiwil Sukanto mendapat kepercayaan sebagai koordinator Keamanan Jalsah. Di bawah koordinasinya, mantan Mubaligh Ahmadiyah Ahmad Hariyadi tertangkap ketika menyusup sebagai peserta Jalsah Salanah.
Baiatnya Kolonel Polisi Drs. Wiwil Sukanto menjadi bukti kuat bahwa mereka yang masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah tidak masuk karena rayuan kekayaan dan jabatan, melainkan karena karunia Allah Ta’ala semata.
Baiatnya Kolonel Polisi Drs. Wiwil Sukanto di hadapan Kolonel Laut Muhammad Lius Ma’ala menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Hari itu, Sabtu, 20 Januari 1998, dua orang Kolonel berpelukan dalam sebuah keimanan terhadap Imam Mahdi as & Khalifah-nya (sebagai Imam zaman).
NOTE: Jalsah Salanah Nasional : refreshing pertemuan rohani Ahmadi-Ahmadi se-Indonesia, duduk-duduk, mendengarkan ceramah-ceramah keruhanian & Shalat Tahajud berjama’ah ). |K|2|3|5|W|™ ‘s
PENGAYAAN:http://filsafat.kompasiana.com/2013/12/12/cara-mempelajari-ilmu-islam-ahmadiyah-615888.html (Islam Sejati pastilah akan mengajarkan hakekat, Jika masih penasaran dan ingin memahami Ahmadiyah, SILAHKAN ORANG2 Indonesia, baik ISLAM, Nasrani, Hindu, Budha YG CINTA KEBENARAN & ILMU,…BACA SUPAYA TAHU ALURNYA ISLAM AHMADIYAH VERSI YG ASLI di Link di atas, tuk dipelajari seumur hidup kita, selama hayat dikandung badan untuk mengetahui ajaran Islam sebenarnya ; INI MENJADI PEMBUKA ILMU ALURNYA ISLAM AHMADIYAH DARI SATU ILMU KE ILMU YG LAINNYA, SILAHKAN MENIKMATI THE JOURNEY… ; Salah satu isinya tentang “PONDASI-RUMAH” ILMU ISLAMNYA RASULULLAH saw (bukan ulamauhum ‘tuhan-MUI’!!!)
; & tentang CARA BELAJAR KETIGA, MENGENAL KEBENARAN HAKIKAT AL JAMAAH ISLAM AHMADIYAH, Pelajari & belajar-lah dari pengalaman2,TESTIMONI, FAKTA YANG TERJADI nyata orang2 non Ahmadi yang telah bersusah payah tuk mencari kebenaran tentang Ilmu sejati Islam Al Jamaah Ahmadiyah, dan akhirnya bai’at, contonya @:
http://www.4shared.com/office/5RbqRC-v/Tunggul_Ihsan_Mahdi-Mencari_Sa.html ; http://www.4shared.com/get/xRxRew0Q/Berkat2_Cikeusik.html ;
http://sejarah.kompasiana.com/2014/02/06/ajaran-islam-ahmadiyah-titik-balik-dalam-kehidupanku-629978.html (Testimoni seorang penganut Buddha…tentang Islam Ahmadiyah.) http://filsafat.kompasiana.com/2013/12/27/isa-saw-lah-sang-mahdi-mesias-juru-selamat-seluruh-umat-manusia-619977.html ;
http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/19/beda-pengertian-antara-al-jamaah-firqah-617924.html ; http://filsafat.kompasiana.com/2014/01/01/tiga-versi-ahmadiyah-621404.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar