70.000 kaum Muslimin yang berada di kota itu terbunuh selama satu minggu lamanya
Ketika Al Quds dikuasai Pasukan Salib, 70.000 kaum Muslimin yang berada di kota itu terbunuh selama satu minggu lamanyaKota al-Quds secara resmi diserahkan kepada kaum Muslimin pada hari Jum’at, 27 Rajab 583 H yang bertepatan dengan 2 Oktober 1187. Hari dikuasainya kembali al-Quds merupakan hari yang baik, sayyidul ayyam
Ramadhan tak lama lagi akan datang. Pada tulisan kali ini, kami akan menceritakan dua buah peristiwa yang berkaitan dengan kota al-Quds dan terjadi pada tanggal 27 Rajab, walaupun pada salah satu kejadian yang akan diceritakan waktu berlakunya tidak sepenuhnya disepakati. Kejadian yang pertama adalah peristiwa Isra’ Mi’raj dan kejadian yang kedua adalah penaklukkan kembali kota al-Quds dari tangan Pasukan Salib oleh Shalahuddin al-Ayyubi.
Isra’ Mi’raj
Salah satu pendapat yang populer mengatakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab. Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury dalam kitab sirahnya, Al-Rahiq al-Makhtum, mengatakan bahwa hal ini merupakan pendapat al-‘Allamah al-Manshurfury yang mengatakan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun 10 kenabian.
Mubarakfury sendiri melemahkan pendapat ini, walaupun ia tidak memberi keputusan pasti tentang waktu terjadinya peristiwa ini. Ia hanya cenderung pada pendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun-tahun yang akhir sekali dari keberadaan Nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam di Makkah.
Kisah Isra’ Mi’raj sudah banyak diketahui oleh kaum Muslimin dan di Indonesia biasa diperingati secara khusus setiap tahunnya. Pada masa-masa itu biasanya para khatib dan para penceramah akan menceritakan kembali kisah perjalanan isra’ Nabi ke Baitul Maqdis di al-Quds (Yerusalem) dan mi’raj Nabi saw ke Sidratul Muntaha dan kemudian menghadap Allah untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Kisah Isra’ Mi’raj memiliki narasi yang khas dan kuat sehingga beberapa penelitian menyebutkan bahwa karya Dante yang terkenal, Divine’s Comedy, sebenarnya banyak mengambil inspirasi dari kisah Isra’ Mi’raj.
Dalam peristiwa itu, Nabi melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat pertama. Nabi saw. shalat di Masjidil Aqsa, mengimami para Nabi lainnya yang dihadirkan ke tempat itu. Kemudian beliau naik melewati langit pertama, kedua, hingga menghadap Allah dan menerima perintah shalat. Dalam perjalanannya itu, beliau menyaksikan berbagai hal, antara lain bentuk-bentuk hukuman yang akan diterima oleh orang-orang yang melakukan perbuatan dosa.
Kami tidak akan mengulangi kisahnya di sini. Tapi dalam kesempatan ini, kami ingin menyebutkan sebuah riwayat yang menarik terkait Isra’ Mi’raj.
Dalam Tafsirnya, saat menjelaskan ayat pertama Surat al-Isra, Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat yang diambilnya dari buku Dala’il al-Nubuwwah karya al-Hafiz Abu Nu’aym al-Isbahani. Riwayat itu menyebutkan bahwa Rasulullah mengutus Dihyah bin Khalifah kepada Kaisar Heraklius dari kekaisaran Byzantium.
Pertemuan ini terjadi di kota al-Quds yang ketika itu dikenal sebagai kota Iliya dan terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah. Saat menerima Dihyah yang menyampaikan kepadanya surat dari Nabi saw., Heraklius memerintahkan orang-orangnya untuk menghadirkan orang-orang Arab dari Hijaz yang kebetulan sedang berniaga di Syam. Di antara para pedagang yang dihadirkan ini ada Abu Sufyan bin Harb yang ketika itu belum masuk Islam. Kaisar bertanya kepadanya pertanyaan-pertanyaan yang telah diketahui luas dan terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Riwayat ini kemudian menyebutkan betapa Abu Sufyan berusaha keras untuk memberi kesan yang negatif tentang Nabi Muhammad. Abu Sufyan berkata: “Demi Allah, tidak ada satu hal pun yang menghalangi saya dari terus berkata-kata kepada Heraklius untuk membuatnya meremehkan Muhammad (saw.).” Tetapi ia tidak berani berdusta karena khawatir ketahuan oleh Heraklius dan karenanya tidak akan dipercaya lagi. Kemudian Abu Sufyan berusaha membuat Heraklius ragu dengan menyebutkan peristiwa Isra’.
Abu Sufyan berkata, “Wahai Raja, saya akan memberitahukan kepada Anda yang akan membuat Anda tahu bahwa ia (Nabi Muhammad saw.) berdusta.” Ia berkata, “Apa itu?” Abu Sufyan berkata, “Ia mengatakan bahwa ia telah keluar dari negeri kami, tanah Haram, dalam satu malam, dan datang ke tempat suci Anda di Yerusalem ini, kemudian kembali lagi kepada kami pada malam yang sama, sebelum pagi menjelang.”
Kepala pendeta Yerusalem ketika itu ada di tempat itu, berdiri di samping Kaisar. Pendeta Yerusalem itu berkata, “Saya mengetahui malam itu.” Kaisar melihat ke arahnya dan berkata, “Bagaimana Anda bisa mengetahui tentang hal ini?”
Ia berkata, “Saya tidak pernah tidur di malam hari sehingga saya menutup pintu tempat suci (Masjid al-Aqsa, pen.). Pada malam itu, saya menutup semua pintu kecuali sebuah pintu, yang tidak bisa saya tutup. Saya memanggil para pekerja dan beberapa orang lainnya yang bersama saya untuk membantu menyelesaikan masalah ini, tetapi kami tetap tidak bisa menutupnya. Rasanya seperti memindahkan sebuah gunung. Maka saya memanggil para tukang kayu, dan mereka melihatnya serta berkata, ‘Ambang pintu dan beberapa bagian pintu ini telah jatuh ke atasnya. Kita tidak bisa menggerakkannya sampai pagi sehingga kita bisa melihat (dengan jelas) apa masalahnya.’ Maka saya pun kembali dan membiarkan pintu itu tetap terbuka. Pagi harinya saya kembali ke situ dan melihat bahwa batu yang ada di sudut tempat suci ada lubangnya, dan ada bekas hewan yang ditambatkan di situ. Saya berkata pada teman-teman saya, ‘Tidaklah pintu ini tidak bisa ditutup semalam melainkan untuk seorang Nabi, yang shalat semalam di tempat suci kita ini.’”
Dalam kisah tersebut, Abu Sufyan berusaha menimbulkan keraguan raja, tetapi kisah itu malah mendapat pembenaran dari pendeta penjaga tempat suci itu. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi setelah itu dengan sang pendeta, apakah ia masuk Islam atau tetap pada agamanya.*
Kota al-Quds secara resmi diserahkan kepada kaum Muslimin pada hari Jum’at, 27 Rajab 583 H
Penaklukkan kembali al-Quds
KOTA al-Quds (Yerusalem) jatuh ke tangan Pasukan Salib pada tahun 1099 (492 H). Ketika kota itu dikuasai Pasukan Salib, 70.000 kaum Muslimin yang berada di kota itu dibunuh oleh Pasukan Salib selama satu minggu lamanya. Selama puluhan tahun berikutnya, tidak ada satu pun kaum Muslimin yang berhasil merebut kembali kota al-Quds dari tangan Pasukan Salib.
Jangankan merebut kembali al-Quds, malah banyak wilayah kaum Muslimin lainnya di Suriah-Palestina yang jatuh ke tangan lawan. Keadaan baru mulai berubah pada masa pemerintahan Nuruddin Zanki (w. 1174), yang kemudian dilanjutkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193).
Selepas wafatnya Nuruddin Zanki, Shalahuddin al-Ayyubi yang merupakan salah satu emir terkuat pada masa itu, melakukan konsolidasi atas wilayah Suriah dan Mesopotamia yang tercerai berai dan menyatukannya dengan Mesir yang sudah berada di bawah kepemimpinannya. Pada tahun 1180-an, wilayah kaum Muslimin dari Mesir hingga Iraq (Mesopotamia) mencapai puncak kesolidan dan kekuatannya di bawah kepemimpinan Shalahuddin. Pasukan Salib yang semakin merasa terancam akhirnya menghimpun pasukan besar di bawah kepemimpinan rajanya, Guy of Lusignan.
Pada bulan Juli 1187, terjadi pertempuran besar di antara kedua belah pihak yang dikenal sebagai Perang Hattin. Pada pertempuran itu, Pasukan Salib mengalami kekalahan telak. Guy of Lusignan, Reynald of Chatillon, para pemimpin Templar, dan banyak bangsawan Kristen lainnya tertangkap dan menjadi tawanan. Banyak kota yang selama ini dikuasai oleh Pasukan Salib otomatis kehilangan pemimpinnya. Shalahuddin al-Ayyubi dan pasukannya pun segera menyapu bersih wilayah lawan dan dalam waktu singkat sebagian besar wilayah Pasukan Salib berhasil dikuasai oleh kaum Muslimin. Tiberias, Acre, Beirut, dan Ascalon satu persatu berhasil diambil alih dalam rentang waktu dua bulan saja. Yang menjadi target Shalahuddin berikutnya adalah kota al-Quds.
Pada hari Ahad, 20 September 1187 (15 Rajab 583), Shalahuddin dan pasukannya tiba di depan Yerusalem dan mengambil tempat di bagian selatan kota itu. Lima hari kemudian, Shalahuddin memindahkan pasukannya ke bagian utara yang dilihatnya lebih strategis. Ketika itu kota al-Quds penuh berisi Pasukan Salib, serta perempuan dan anak-anak mereka. Jumlah mereka ketika itu mencapai 60.000 orang. Banyak pelarian dari kota-kota lainnya yang telah jatuh datang ke kota ini, selain ke kota Tyre. Selama masa pengepungan, pertempuran yang sengit terjadi di antara kedua belah pihak. “Ia merupakan pertempuran paling sengit yang pernah disaksikan seseorang,” kata Ibnu al-Athir dalam buku sejarahnya, “karena masing-masing pihak yakin bahwa hal itu merupakan tugas agama dan sesuatu yang bersifat mengikat. Tidak diperlukan motivasi dari para pemimpin (untuk mengobarkan pertempuran, pen.).”
Walaupun demikian, pasukan Muslim ketika itu jauh lebih kuat, sehingga para pemimpin Pasukan Salib di al-Quds akhirnya yakin bahwa mereka tidak mungkin menang. Mereka pun meminta perjanjian damai dengan pasukan Muslim. Mereka ingin menyerahkan kota itu kepada kaum Muslimin dengan syarat mereka diijinkan untuk meninggalkan kota itu dengan aman. Shalahuddin al-Ayyubi berkali-kali menolak permintaan ini. Shalahuddin berkata kepada para utusan Pasukan Salib, “Saya hanya akan memperlakukan kalian sebagaimana kalian dulu memperlakukan penduduk kota ini ketika kalian menaklukkannya …, dengan membunuh, memperbudak, dan membalas kejahatan dengan kejahatan.”
Kata-kata Shalahuddin itu menunjukkan bahwa kaum Muslimin memang tidak pernah melupakan kekejian yang telah dilakukan oleh Pasukan Salib 88 tahun sebelumnya.
Balian of Ibelin yang merupakan seorang ksatria Pasukan Salib yang memimpin al-Quds ketika itu kemudian meminta ijin untuk bertemu dengan Shalahuddin. Kepada Shalahuddin ia kembali memohon agar permintaan mereka dikabulkan, tetapi Shalahuddin tetap menolaknya. Merasa putus asa, ia berkata pada Shalahuddin, “Wahai Sultan, ketahuilah bahwa di dalam kota ini kami adalah kumpulan yang sangat besar dan hanya Tuhan saja yang tahu (berapa jumlahnya). Mereka melunak dalam pertempuran mereka hanya karena mereka mengharapkan kesepakatan ini, (mereka) berpikir bahwa Anda akan menerima kesepakatan ini sebagaimana Anda telah mengabulkannya kepada yang lain. Mereka ingin mengelak dari kematian dan mengharapkan kehidupan. Tetapi, kalau mereka menemukan bahwa kematian sudah tak bisa dihindari, demi Tuhan, kami akan menyembelih anak-anak dan perempuan-perempuan kami, membakar bangunan dan harta benda kami dan tidak akan membiarkan Anda mendapatkan manfaat darinya walaupun hanya sepotong dinar atau dirham, dan tidak dapat pula menjadikan tawanan seorang laki-laki ataupun perempuan. Ketika kami sudah menuntaskan itu semua, kami akan menghancurkan Qubbatus Sakhra’ (Dome of Rock), Masjid al-Aqsa, dan situs-situs lainnya, serta membunuh semua tawanan Muslim yang ada pada kami, 5000 jumlahnya. Kami tidak akan menyisakan untuk Anda suatu tunggangan atau hewan tanpa kami bunuh. Kemudian kami akan maju ke hadapan, semua dari kami, menghadapi Anda dan memerangi Anda seperti orang-orang yang putus asa berjuang demi hidup mereka. Tidak satu pun di antara kami akan terbunuh pada ketika itu melainkan ia membunuh banyak orang di antara kalian. Kami akan mati terhormat atau kami menang dengan gemilang.”
Mendengar kata-kata itu, Shalahuddin mempertimbangkan permintaan Pasukan Salib dan berunding dengan para emir Muslim yang ada. Akhirnya permohonan Pasukan Salib itu diterima.
Mereka menyerahkan kota al-Quds kepada kaum Muslimin dan mereka diizinkan meninggalkan kota itu secara damai. Selain itu disepakati bahwa untuk mendapat izin keluar dari kota itu setiap pria dewasa harus menebus dirinya sebesar 10 dinar, kaum perempuan sebesar 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Ini menurut Ibnu al-Athir. Bahauddin Ibn Shaddad, seorang ulama, sahabat, sekaligus penulis biografi Shalahuddin, memberikan angka yang sama, kecuali untuk anak-anak yang besar tebusannya menurut beliau adalah 1 dinar.
Kota al-Quds secara resmi diserahkan kepada kaum Muslimin pada hari Jum’at, 27 Rajab 583 H yang bertepatan dengan 2 Oktober 1187. Hari dikuasainya kembali al-Quds merupakan hari yang baik, sayyidul ayyam. Hari Jum’at merupakan hari favorit Shalahuddin untuk memulai pertempuran. Dan tentu saja ia juga merupakan hari favorit untuk meraih kemenangan.
Tanggal kemenangan itu juga merupakan tanggal yang bersejarah. Ibn Shaddad dalam bukunya menulis, “Sultan menerima penyerahan kota itu pada hari Jum’at 27 Rajab. Waktu itu bertepatan dengan (tanggal) Mi’raj Nabi yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim.”
Pasukan Salib dan orang-orang Frank lainnya (orang-orang Kristen Eropa yang datang dan menetap di Suriah-Palestina) kemudian menebus diri mereka dan satu persatu keluar dari kota itu serta pergi ke kota Tyre.
Shalahuddin al-Ayyubi menepati janjinya dan membiarkan mereka pergi dengan selamat. Kota al-Quds kemudian direnovasi sesuai dengan kepentingan kaum Muslimin. Salib yang ada di pucuk Masjid Umar (Dome of Rock) segera dicopot dan dijatuhkan. Pada Jum’at berikutnya dilaksanakan shalat Jum’at yang pertama di kota itu dan qadhi Damaskus bertindak sebagai imam dan khatibnya. Beberapa waktu kemudian, mimbar yang telah disiapkan oleh Nuruddin Zanki untuk Masjid al-Aqsa dan disimpan di kota Aleppo segera dibawa ke al-Quds dan diletakkan di masjid al-Aqsa.
Peristiwa itu serta kemurahan hati Shalahuddin dan pasukannya terhadap musuh terus dikenang oleh sejarah, oleh kaum Muslimin dan juga oleh dunia Kristen Eropa, hingga saat ini.
Di kota al-Quds, pada tanggal 27 Rajab dan hari-hari setelahnya, Shalahuddin al-Ayyubi dan pasukannya telah menunjukkan sikap belas kasih yang indah terhadap lawan. Hal ini adalah contoh yang telah diberikan oleh Nabi yang rahmatan lil ‘alamin, Nabi yang beberapa abad sebelumnya telah diperjalankan oleh Tuhannya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil al-Aqsa. Semoga pada hari ini, ummat ini pun tidak kehilangan rasa kasih sayang yang telah ditunjuk ajar oleh Nabi mereka dahulu.
Allahumma bariklana fi Rajab wa Sha’ban wa balighna Ramadhan.*/Kuala Lumpur, 6 Sha’ban 1434/ 15 Juni 2013
Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib
Daftar Pustaka
Ibn al-Athir. The Chronicle of Ibn al-Athir for the Crusading Period from al-Kamil fi’l-Ta’rikh, part 2. Farnham: Ashgate. 2007.
Ibn Shaddad, Baha’ al-Din. The Rare and Excellent History of Saladin or al-Nawadir al-Sultaniyya wa’l-Mahasin al-Yusufiyya. Aldershot: Ashgate. 2001.
Mubarakfury, Syaikh Shafiyyurrahman. Al-Rahiq al-Makhtum, Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Muhammad SAW. Jakarta: Pustaka al-Sofwa. 2004.
Tafsir Ibnu Katsir.
Awi A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar