Minggu, 28 Desember 2014

Sejarah Menjelang Munculnya Agama Baru di Timur Tengah

13935982081746637776
sumber gambar:hizbut-tahrir.or.id

Agama Kristen yang merupakan agama resmi Kekaisaran Romawi telah menyebar ke seluruh penjuru Eropa kemudian ke sekitar wilayah laut Tengah membuat semua kuil penyembahan Berhala diperintahkan untuk ditutup pada 395M. Bagaimana dengan nasib agama (bangsa) Yahudi yang semenjak abad ke 1 telah diasingkan dari tanah Yudea dan menetap di di berbagai wilayah Kekaisaran Romawi?, Kitab suci agama Yahudi suci bagi umat Kristen tapi umat Kristen tidak mengikuti Hukum-Hukum Yahudi dan demikian sebaliknya orang Yahudi menolak Ketuhanan Yesus. Gereja mengambil kebijakan bahwa orang Yahudi harus dijadi-kan Kristen dengan jalan setengah penindasan; dengan cara membatasi ibadah, kepemilikan dan hak berbicara mereka.
Pusat Kekristenan berada di Konstantinopel (Istanbul kini) Sebagai Ibukota Kekaisaran Romawi meskipun kota Roma sendiri sudah runtuh, lebih jauh ke timur bangsa Armenia juga telah masuk Kristen, kemudian di selatan bangsa Etiopia juga mengikuti ditambah bermunculan gereja-gereja Kristen di Arab.
Pesaing Kekaisaran Romawi yang terkuat; Persia beragama yang didirikan Zarathustra, memuja Mazda. Persia mencurigai orang-orang Kristen sebagai mata-mata Romawi tapi tidak menolak bangsa Yahudi.
Di Yaman tempat strategis ujung selatan jazirah Arab yang merupakan pintu masuk ke laut Merah, berebutlah pengaruh Yahudi dan Kristen. Pada 300an M orang Yahudi dan Kristen sibuk berkhotbah kepada para penguasa Yaman sampai pada +/- 395M Raja Yaman meme- luk Yahudi (ada kemungkinan Orang Yahudi menjadi Raja Yaman), sampai dengan lebih dari seabad kemudian Raja-Raja Yahudi memerintah Yaman, hingga terjadi insiden ketika Raja Yusuf Dhu-Nuwas pada tahun 520an M mendengar isu akan terjadi pemberontakan orang Kristen. Yusuf Dhu-Nuwas mengambil tindakan preventif; Ia menyerang terlebih dahulu gereja-gereja dan membantai ribuan orang Kristen. Seorang Kristen yang lolos dari maut mengadukan hal itu ke Konstantinopel namun hanya untuk mendapatkan penolakan bala bantuan selain saran agar meminta bantuan ke Etiopia yang lebih dekat. Raja Etiopia mengetahui hal itu bersumpah akan membalas dendam atas pembantaian orang Kristen di Yaman. Pada 525M Etiopia menyerbu Yaman dan mengalahkan Raja Yahudi Yaman. Kini orang Kristen memerintah Yaman dan orang-orang Yahudi Yaman mengungsi ke wilayah Arab lainnya. Sedangkan Yaman sendiri dalam keadaan kacau balau; saluran air rusak-panen gagal sampai 40 tahun kemudian negeri itu masih terbelenggu kemiskinan. Dan Gubernur Etiopia mempunyai gagasan menarik untuk memperbaiki ekonomi yaitu dengan membangun Gereja Katedral nan megah di Yaman yang akan mengundang banyak wisata-wan dan mendatangkan keuntungan ekonomi sekaligus memperkenalkan budaya Etiopia.
Benar, ketika Gereja itu selesai dibangun, berita menyebar hingga ke utara, ke sebuah kota pusat ziarah penyembah Berhala bernama Mekah. Bagi penduduk Mekah, hadirnya Gereja Katedral di Yaman dianggap sebagai saingan bagi agama mereka. Kemudian beberapa pemuka agama memutuskan pergi ke Yaman untuk memata-matai dan melihat bangunan itu. Dengan menyamar sebagai wisatawan mereka masuk ke Gereja Katedral dan tak lama mereka mencari tempat di pojok yang gelap untuk melakukan aksi protes yang berbau; BAB di lantai dan lekas kabur setelahnya. Akibat penghinaan itu, Etiopia dipimpin oleh Abrahah menyatakan perang terhadap Mekah pada 570M (di Mekah tahun 570M dikenal sebagai tahun Gajah). Namun pasukan Gajah yang dibawa Abrahah mundur begitu saja sesampai-nya di Mekah mungkin karena serbuan burung Ababil yang menghujani Gajah-Gajah dengan batu. Mekah menang dan pada tahun itulah lahir Muhammad, Nabi Islam, agama masa depan Mekah.
Mekah, suatu wilayah berbatu-batu dengan air sumur yang tersedia secara terbatas, terletak di jalur perdagangan antara Yaman dan Suriah, jadi meskipun letaknya terpencil-namun kafilah-kafilah yang melalui jalur perdagangan itu banyak membawa barang dagangan seperti rempah-rempah dan budak menuju Suriah dan perabot rumah tangga, kain dan alkitab menuju Yaman. Mekah juga menjual berbagai barang ke sekitarnya, setiap tahun Mekah mengadakan pekan raya tempat orang berdatangan dari sekitarnya dalam rangka jual beli dan pergaulan. Untuk melayani kebutuhan ruhani pengunjungnya, Mekah mempunyai tempat ibadah bernama Ka’bah-tempat tersimpannya ratusan patung dewa-dewi. Sepanjang abad sebelumnya suku Quraisy telah menguasai semuanya di Mekah; air dan Ka’bah. Pada 500an M mereka berjumlah beberapa ratus terbagi dalam 12 keluarga besar. Suku Quraisy memerintah Mekah seperti mengelola usaha keluarga; tanpa walikota, dan melalui perundingan antar para tetua suku lah mereka menyelesaikan masalah. Setahun sekali para pedagang Quraisy mengumpulkan barang dagangan-memuatnya di punggung onta dan dibawa ke Suriah. Dalam bisnis demikian, ada yang berkembang ada pula yang bangkrut. Pada 570 M Mekah sendiri berpopulasi beberapa ribu orang termasuk budak.
Diantara penduduk Mekah yang lahir setelah tahun gajah ada yang kaya raya seperti Abu Sufyan Bin Harb, ahli berniaga yang sejak muda sering ke Suriah. Ia menikahi Hindun Binti Uthbah yang punya reputasi berlidah tajam, mereka memiliki beberapa anak. Pada 613M saat Abu Sufyan dan Hindun berusia 40an muncul ‘masalah keluarga’, putri mereka yang bernama Ummi Habibah telah menghadiri suatu ‘perkumpulan ibadah’, yang dipimpin oleh sepupu jauh Abu Sufyan yang bernama Muhammad-seorang yatim piatu sejak masa kanak-kanak dan dibesarkan oleh pamannya walau miskin namun murah hati. Pemuda Muhammad kemudian bekerja sebagai pengelola harta seorang Janda bernama Khadijah. Sejak dikelola oleh Muhammad , Khadijah bertambah makmur. Kemudian mereka jatuh cinta, menikah dan punya beberapa anak namun yang mencapai usia dewasa hanya 2 orang putri. Pada 610M ketika sedang menyepi di Gua Hira, Muhammad mendengar suara Jibril yang menyampaikan pesan langsung dari Allah. Awalnya, Muhammad bimbang akan tetapi Khadijah meyakinkannya bahwa itu suara itu nyata, dan kemudia semakin banyak wahyu yang disampaikan. Sampai dengan 3 tahun turunnya wahyu, itu masih menjadi ‘rahasia keluarga’ hingga pada 613M muncul perintah untuk menyebarkan Firman itu. Muhammad mengundang semua pamannya untuk makan malam dan diumumkan bahwa dirinya adalah seorang Nabi. Paman-pamannya menolak percaya walau tidak terang-terangan. Ketika wahyu disampaikan di muka umum banyak yang percaya dan dalam setahun mendapatkan 150 pengikut. Yang diajarkan Muhammad : Hanya ada 1 Allah, Tuhannya Ibrahim, Musa dan Isa (yesus)-Muhammad adalah Nabi-Muslim( orang yg tunduk kepada Allah) akan masuk surga, sedangkan yang bukan muslim akan masuk neraka-Muslim wajib sholat 5 kali sehari bersujud menghadap Yerusalem-Muslim harus rendah hati, tidak boleh mabuk, sederhana dan murah hati kepada janda dan yatim piatu-muslim wajib memperlakukan sesamanya sebagai saudara. Reaksi salah satu paman Muhammad melihat ibadah sholat muslim saat itu :”bukan begitu caraku menghadap Tuhan”.
Hadirnya agama baru ini membuat Mekah menjadi tidak kondusif lagi. Salah satu penyebab-nya adalah soal neraka itu. Selain itu Muhammad berkhotbah kepada para pengunjung pekan raya tahunan di Mekah agar mereka meninggalkan berhala dan dewa-dewi mereka. Dan yang terakhir; muslim mengumpulkan modal sendiri untuk berbisnis di luar kendali keluarga. Ini membuat panas dan muncul beberapa orang yang berniat membunuh Muhammad. Sementara itu Romawi dan Persia berada di ambang peperangan, pada 602M Persia menyerbu Yaman. Kekaisaran Romawi yang mencuriga Yahudi di wilayahnya akan memihak Persia memerintahkan mereka agar masuk Kristen, Pada 608M di Anthiokia ribuan orang Yahudi dibantai oleh Kekaisaran Romawi. Saat,Persia mulai menyerang mendekati Yerusalem, Muhammad mulai menyiarkan Wahyu kepada masyarakat umum untuk berkiblat ke Yerusalem-dengan demikian menempatkan muslim pada kubu pihak Romawi melawan Persia. Pada 614M, setelah 6 abad diperintah oleh Kekaisaran Romawi Yerusalem jatuh ke tangan Persia dan bangsa Yahudi kembali ke sana. Namun saat Persia mundur sejenak, Umat Kristen bangkit kembali untuk membantai Yahudi, kemudian Persia datang kembali untuk membantai umat Kristen. Implikasi perang ini jelas menyusahkan Mekah, merugikan dunia usaha, akan tetapi para tetua memilih menunggu perang usai untuk berurusan dengan pemenangnya. Sebaliknya, Muhammad lebih memihak kepada Kristen, pada 614M Ia mengirim 75 pengikutnya termasuk Ummi Habibah Binti Abu Sufyan ke Etiopia, untuk sementara muslim berteman dengan Etiopia kerajaan Kristen yang musuhnya Mekah. Kebijakan luar negri Muhammad menimbulkan kemarahan suku Quraisy yang punya kebijakan luar negri yang berbeda. Akibatnya suku Quraisy mulai memboikot semua usaha dagang muslim. Ketegangan semakin meningkat; para majikan Quraisy menyiksa budak Muslim, Orang Tua Quraisy memukuli anaknya yang Muslim, akhirnya Muslim banyak kehilangan harta benda. Pada 618M Khadijah meninggal dunia. Muhammad ingin semua Mekah menjadi Muslim sebaliknya Suku Quraisy menuntut Muhammad untuk diam. Kedua belah pihak tidak ada yang mengalah sampai pada 622M para tetua semua keluarga kecuali keluarga Muhammad sepakat untuk membunuh sepupu mereka sendiri yang Nabi itu. Pada saat yang sama Muslim mulai menyelinap meninggalkan Mekah. Pada suatu malam ketika 11 orang yang ditugasi untuk membunuh Muhammad sampai ke rumah Muhammad saat fajar mereka tidak menemukannya.
Yang terpenting dari episode ini adalah; sebelum meninggalkan Mekah dan diperintahkan hijrah ke Medinah adalah wahyu yang membolehkan melawan orang yang menindas. Pada wahyu sebelum ini diperintahkan untuk mengalah.
Medinah sendiri dihuni oleh 2 suku Arab yang saling bertikai dan 3 suku Yahudi; 2 suku bertani dan yang satunya lagi membuat senjata dan perhiasan. Kebetulan sudah ada Muslim pada sebagian suku Arab di Medinah yang menyambut gembira pada awalnya kedatangan sesama saudara Muslim dari Mekah itu. Akan tetapi setelah berbulan-bulan tinggal bersama di pemukiman sempit mulailah muncul problem sosial di antara sesama Muslim. Muhammad mencoba meredakan problem sosial ekonomi itu dengan mengajak Yahudi Medinah agar mau masuk Islam demi berbagi sumber daya. Yahudi Medinah menolaknya dengan alasan mereka sudah punya Tuhan sendiri dan tidak ada perlunya dengan Tuhannya Muhammad. Jengkel, kemudian turun wahyu yang mengubah arah kiblat dari Yerusalem ke Mekah.
Pada suatu saat,Muhammad memesan senjata kepada suku Yahudi pembuat senjata, dan pada musim semi 624M Muslim di bawah bendera hijau menyerang suku Quraisy yang hendak berniaga ke Suriah dipimpin oleh Abu Sufyan. Namun rencana ini bocor dan Abu Sufyan urung pergi dan balik ke Mekah untuk mempersiapkan pasukan mengadang Muslim. Abu Sufyan sendiri tak ikut dalam perang Badar yang terjadi pada 15 Maret 624M itu. Pada perang itu banyak tetua Suku Quraisy yang tewas. Kini Muslim merasa gembira karena memperoleh harta rampasan dan perasaan bangga menang perang. Kemudian muslim menyerang suku Yahudi pembuat senjata Bani Qainuqa (yang dituduh membocorkan penyergapan Kafilah Abu Sufyan) sehingga tersisa 2 suku Yahudi yang berlindung dalam benteng-benteng mereka. Tahun berikutnya Abu Sufyan balik mengalahkan Muslim dalam perang Uhud dan Abu Sufyan hendak melanjutkan dengan menyerang Medinah akan tetapi Muslim telah mempersiapkan dengan menggali parit, Suku Quraisy yang belum pernah bertemu dengan strategi seperti itu menyerah dan balik ke Mekah. Saat perang Uhud pihak Muslim kalah, Muslim kemudian menyerang 1 lagi suku Yahudi Medinah yaitu Bani Al Nadhir. Dan kemudian setelah perang ‘parit’ ,Muslim menyerang suku Yahudi terakhir yaitu Bani Quraizah-memperbudak kaum wanita dan anak anak mereka dan menghukum mati 700 laki-laki suku itu. Sekarang Medinah telah menjadi 100% Muslim. Mengapa perlu Muslim menyerang Yahudi?, latar belakangnya demikian; pada 620an M Kaisar Romawi yang baru Heraclius menyerang Persia dan merebut kembali hampir seluruh wilayah Kekaisarannya, pada 628M Kekaisaran Romawi merebut kembali Yerusalem dan membantai Yahudi seperti biasanya. Dengan demikian Yahudi di Jazirah Arab tidak punya pelindung lagi Persia nya, kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Muslim. Muhammad mengadakan gencatan senjata dengan Mekah untuk menyerbu Khaibar sebuah kota Yahudi di Utara yang dihuni 50 ribu populasi dengan sebagian besar Yahudi. Setelah Khaibar dikuasai, Yahudi disana harus menyetor setengah penghasilan tahunannya ke Medinah. Hasilnya sekarang Muslim Medinah menjadi kaya raya. Pada 628M Muhammad melakukan langkah cerdik berikutnya, Ia memanggil Ummi Habibah Binti Abu Sufyan agar pulang dari Etiopia, dan kemudian menikahinya!!, dengan demikian Abu Sufyan kini menjadi Mertuanya. Abu Sufyan tak bisa berbuat apa-apa menyaksikan musuhnya telah menjadi menantunya. Dan kemudian para prajuritnya berduyun duyun masuk Islam, berikutnya dengan ditemani oleh Abbas salah seorang paman Muhammad, Ia berangkat ke Medinah menghadap Muhammad. Akhirnya Abu Sufyan memeluk Islam. Mereka lalu berunding tentang syarat-syarat takluknya Mekah; semua suku Quraisy akan memeluk Islam dan Muhammad akan memasuki Mekah dengan damai. Pada 630M Muslim kembali secara damai ke Mekah dan ratusan berhala di Ka’bah dihancurkan.

Immortal

Situs Megalitikum Gunung Padang

13935888182047599591
foto: tribunnews.com
Penemuan Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat sudah cukup lama mengemuka. Namun, tidak ada tindak lanjut dari para ahli arkeolog untuk melakukan penelitian mendalam, sehingga sampai sekarang belum diketahui secara jelas, peradaban apa yang bersemayam di Situs Megalitikum Gunung Padang.

Mengutip dari Wikipedia, Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari 
persimpangan kota kecamatan WarungKondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 hektar, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Masih mengutip dari data Wikipedia, laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, Buletin Dinas Kepurbakalaan) tahun 1914. Sejarawan Belanda N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat “terlupakan”, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma dan Abidin melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.

Setelah lama tidak ada kabar, Situs Gunung Padang kembali menyeruak, ketika Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief meminta dilakukan penelitian lebih mendalam terhadap situs tersebut. Bahkan, pada tahun 2013 lalu sempat dibuka pendaftaran untuk relawan yang ingin bergabung bersama Tim Terpadu Situs Gunung Padang.

Namun sampai sekarang, belum ada kabar lebih lanjut terhadap penelitian situs tersebut. Sampai akhirnya, belum lama ini Presiden SBY memberikan harapan. SBY meminta agar penelitian untuk
mengungkap sejarah peradaban manusia di situs zaman batu itu bisa diteruskan kembali. SBY berharap Situs Gunung Padang bisa menjadi seperti Candi Borobudur dan beberapa temuan sejarah di Indonesia yang bisa dijadikan acuan peradaban dunia.

Permintaan Presiden SBY ini menjadi lampu hijau bagi upaya-upaya mengungkap misteri Situs Gunung Padang. Permintaan ini sekaligus menunjukkan bahwa SBY peduli pada sejarah. Ini menjadi kesempatan bagi tim yang sebelumnya sudah terbentuk untuk kembali melanjutkan penelitian terhadap Situs Gunung Padang. Apalagi arahannya langsung dari presiden, sehingga tidak alasan untuk berhenti atau terkendala dengan permasalahan izin dan lain sebagainya.(***)

Janin pun Bersujud Subhanallah

janin sehat Subhanallah, Janin pun Bersujud!
DALAM upaya menanamkan kecerdasan si buah hati sejak dalam kandungan, berbagai cara haruslah dilakukan oleh seorang ibu yang sedang mengandung buah hati kesayangannya. Menurut penelitian para dokter, salah satu cara untuk menanamkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan yaitu dengan memperdengarkan musik classic seperti musik Mozart kepada janin yang sedang berada di dalam perut ibu.

Lalu bagaimanakan pandangan islam dalam menyikapi hal tersebut?

Dalam agama islam, bayi adalah makhluk ciptaan Allah yang masih suci. Mengenai hal ini, tentunya bacaan Al-Qur’an adalah sebaik-baik lantunan yang harus diperdengarkan oleh janin. Sehingga, Habib Munzir pun menyarankan bahwa istri yang sedang hamil lebih baik banyak membaca Al-Qur’an untuk menuntun kemuliaan di dalam rahim. Utamakanlah membaca surah Muhammad, dengan harapan agar mendapatkan rahmat Allah sebagaimana lahirnya Nabi Muhammad saw ke muka bumi ini dengan membawa segala rahmat-Nya.

Saran habib Munzir tersebut, ternyata didukung oleh hasil eksperimen beberapa dokter. Saat seorang ibu hamil sedang melakukan USG, maka dibacakanlah surah Al-fatihah dan Al-Baqarah. Apa yang terjadi gerangan? Subhanallah, janin tersebut terdiam dan mengambil posisi seperti sedang bersujud seolah-olah ia kenal dekat dengan ayat-ayat yang sedang dibacakan.

Di samping itu, Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an terhadap meningkatnya IQ bayi yang baru lahir, dalam seminar konseling dan psikoterapi islam sekitar delapan tahun yang lalu. Diungkapkannya, bayi yang baru berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang.

Untuk itu, kepada ibu-ibu yang sedang mengandung buah hatinya perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Karena, jika Al-Qur’an diperdengarkan secara tepat dan benar (tajwid dan makhrajnya) maka Al-Qur’an mampu merangsang saraf-saraf otak pada si kecil. Wallaahu a’lam. [retsa/islampos/pendidikanagamaislamdalamkeluarga]

Sabtu, 27 Desember 2014

Meriam Kuno dan Mideun Perang di Pulo Ibouh Bireuen


Meriam kuno yang ditemukan di Mideun Prang oleh penduduk setempat diletakkan di depan meunasah Desa Pulo Ibouh | Foto: Irman I. Pangeran/atjehpost Mideun Prang selama perang Belanda di Aceh sering digunakan sebagai benteng alami pasukan kerajaan | Foto: Irman I. Pangeran/atjehpost


  • Meriam kuno ini ditemukan di Mideun Prang dan diletakkan di depan meunasah oleh penduduk setempat | Foto: Irman I. Pangeran/atjehpost

    Moncong meriam tersebut bercat merah dibingkai garis putih yang telah memudar. Pada sisi kiri meriam tertera angka “1785”, dan sisi kanannya tertulis “KKM Unimus 2011 Angkatan IX”.

    Meriam kuno itu dipajang di halaman depan meunasah Desa Pulo Ibouh, kemukiman Banjir Asin, kecamatan Jangka, Bireuen. Meriam hitam pekat itu panjangnya 2,68 meter. “Moncongnya berdiameter 13 centimeter,” kata Safar, anggota tim ekspedisi Centre Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah) Lhokseumawe kepada atjehpost.com seusai mengukur panjang dan diameter meriam itu, Sabtu pekan lalu.

    Moncong meriam tersebut bercat merah dibingkai garis putih yang telah memudar. Pada sisi kiri meriam tertera angka “1785”, dan sisi kanannya tertulis “KKM Unimus 2011 Angkatan IX”. Meriam itu diperkiran sudah berusia lebih 220 tahun, dan telah ditata oleh mahasiswa Universitas Almuslim pada tahun 2011 lalu.

    “Beton yang menjadi pondasi meriam itu dibangun oleh mahasiswa Unimus saat melakukan Kuliah Kerja Nyata di desa ini,” kata Zulkifli Sya’ban, Keuchik Pulo Ibouh melalui telpon seluler, Selasa, 25 Februari 2014.

    Samping kanan meriam tergeletak sebuah besi bulat yang sudah berkarat, panjangnya hampir sama seperti meriam. Besi itu, kata Zulkifli Sya’ban, diambil dari lokasi saluran pembuang di desa Pulo Ibouh dan ditempatkan di samping meriam pada tahun 2013.

    Zulkifli Sya’ban menjelaskan, masyarakat Pulo Ibouh menemukan meriam kuno itu di lokasi mideuen prang atau benteng pertahanan rakyat melawan penjajah. Lokasi meideun prang berjarak lebih kurang 500 meter dari meunasah desa Pulo Ibouh, atau sekitar 12 kilometer dari pusat kota Bireuen.

    “Seingat saya, sejak masa konflik Aceh, meriam itu sudah ditempatkan di halaman depan meunasah desa ini setelah ditemukan di lokasi mideun prang,” ujar Zulkifli Sya’ban.

    Berada di tengah kebun yang sesak dengan pohon kelapa, pinang, dan tumbuhan liar, mideun prang atau benteng itu berupa gundukan tanah setinggi 2 meter, dan luasnya sekitar 15 x 5 meter.

    “Saat saya masih muda, gundukan tanah ini lebih tinggi lagi, mencapai empat meter,” kata Sofyan, 50 tahun, warga desa Lhok Bugeng, tetangga desa Pulo Ibouh, yang menemani atjehpost.com berkunjung ke lokasi tersebut, Sabtu pekan lalu. “Di sinilah dulunya para pejuang mempertahankan daerah ini dari serangan penjajah,” ujar dia lagi.

    Di atas gundukan tanah itu tumbuh subur bak barat daya dan tumbuhan liar. Sebelah baratnya ada gundukan tanah setinggi 0,5 meter dan menjulur sepanjang 50 meter. Sebelah selatannya tampak bekas galian tanah mirip alur sungai yang telah dangkal.

    Menurut cerita bertutur yang berkembang di tengah masyarakat setempat, salah seorang pejuang yang memimpin perlawanan rakyat terhadap gempuran penjajah di lokasi benteng itu ratusan tahun silam adalah Teungku Syiek Peusangan Pulo Ibouh. Ia juga diyakini sebagai pendiri Masjid Mideun yang kemudian diberi nama Masjid Mideun Teungku Syiek Peusangan Pulo Ibouh. Masjid kuno itu berada di desa Lhok Bugeng.

    Keuchik Zulkifli Sya’ban berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui dinas terkait memugar lokasi benteng itu agar tidak hilang jejak sejarah yang sudah cukup lama terabaikan. “Mideun prang itu mestinya dipugar agar jejak sejarah terawat dengan baik. Meriam kuno yang sekarang berada di depan meunasah Pulo Ibouh juga perlu dipugar lebih layak,” katanya.

    Kepala Seksie Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, Yusri saat dihubungi, Selasa siang, mengatakan meriam kuno dan mideun prang di Pulo Ibouh belum terdata pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen.

    “Kita segera turun ke desa itu untuk mengecek dan mendatanya. Kalau memenuhi syarat sebagai cagar budaya, maka akan kita usulkan untuk pemugaran,” katanya.
  • Irman I. Pangeran AP

    Menengok Karya Wilsen: Dokumentator Pertama Borobudur

    CANDI BOROBUDUR yang sempat “hilang” selama berabad-abad akhirnya berhasil ditemukan kembali pada 1814 ketika Jawa dikuasai Pemerintahan Britania (Inggris). Sedang proses pendokumentasian Candi Borobudur diawali oleh Wilsen sejak tahun 1849 ketika Indonesia di bawah kekuasaan Belanda. Mengenai proses dokumentasi dalam bentuk foto baru dimulai pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen.
    Candi Borobudur konon sempat “hilang” selama berabad-abad akibat terkubur di bawah lapisan tanah dan debu vulkanik yang diduga dari letusan gunung berapi. Candi ini baru ditemukan kembali pada tahun 1814 ketika Jawa berada di bawah pemerintahan Britania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816.Ketika itu, Sir Thomas Stanford Raffles - yang ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal - memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Pada saat mengadakan kegiatan di Semarang, Raffles mendapatkan informasi bahwa di daerah Kedu telah ditemukan susunan batu bergambar.
    Berawal dari informasi tersebut, Raffles akhirnya mengutus Cornelius seorang Belanda untuk membersihkannya. Pekerjaan ini dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman pada tahun 1835. Disamping kegiatan pembersihan, Raffles juga mengadakan penelitian terhadap stupa puncak Candi Borobudur, namun sayang mengenai laporan penelitian ini tidak pernah terbit. Sedang pendokumentasian pertama dilakukan oleh Wilsen mulai tahun 1849 melalui gambar-gambar sketsa. Sedangkan dokumen foto baru dibuat pada tahun 1873 oleh Van Kinsbergen.
    FC Wilsen adalah seorang insinyur pejabat Belanda bidang teknik. Setelah mempelajari Borobudur, Wilson akhirnya berhasil menggambar ratusan sketsa relief. Kala itu, JFG Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci terhadap Borobudur dan berhasil diselesaikan pada 1859. Rencananya, Pemerintah Belanda akan menerbitkan artikel penelitian Brumund yang dilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen. Namun, entah kenapa Brumund ternyata menolak untuk bekerja sama. Karena itu, Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C Leemans.
    Pemerintah Belanda akhirnya menerbitkan monograf pertama dan penelitian detil Borobudur pada 1873 setelah hasil kerja Brumund dan Wilsen dikompilasikan dengan hasil kerja Leemans. Hasil kerja ketiga tokoh tersebut kemudian diterjemahkan dalam bahasa Perancis setahun kemudian.
    Hasil Dokumentasi Wilsen:
    Boro-Boedoer op het eiland Java’ / afgebeeld door en onder toezigt van F.C. Wilsen ; met toelichtenden en verklarenden tekst, naar de geschreven en gedrukte verhandelingen van F.C. Wilsen, J.F.G. Brumund en andere bescheiden, bew. en uitg. … door C. Leemans. - Leiden : Brill. LIX, 667 p. Gepubliceerd: door C. Leemans. - Leiden : Brill, 1873. - No. 55, pl. XLIII
    [Repro KITLV]
    ‘Bôrô-Boedoer op het eiland Java’ / afgebeeld en onder toezigt van F.C. Wilsen [...] ; bew. en uitg. … door C. Leemans. - Leiden : Brill, 1873. - LIX, 667 p. + 393 pl. (groot formaat) Kopie naar plaat No. 161 uit
    [Repro KITLV]

    ‘Bôrô-Boedoer op het eiland Java’ / afgebeeld en onder toezigt van F.C. Wilsen [...] ; bew. en uitg. … door C. Leemans. - Leiden : Brill, 1873. - LIX, 667 p. + 393 pl. (groot formaat) Kopie naar plaat No. 115 uit
    [Repro KITLV]
    Hasil Dokumentasi Van Kinsbergen
    Stupa’s op de Boroboedoer bij Magelang (1874) [Repro foto: Van Kinsbergen]

    Sutrisno B




    Latar Belakang Sejarah “Indonesia”

    Tahukah Anda asal-muasal Negara Indonesia?
    Ternyata, Indonesia merupakan sebuah negara yang berasal dari dua (2) suku kata yang diambil dari bahasa Yunani. Indo yang berarti India dan Nesos yang berarti Pulau. Jika diartikan bahwa “Indonesia” adalah sebuah Pulau India. Benarkah demikian? Lantas apa hubungannya?
    Ialah Aleksander Agung, seorang penakluk asal Macedonia yang telah hampir menjelajahi seluruh penjuru dunia ini. Terlahir di kota Pella, Macedonia pada 356 SM dan merupakan murid seorang filsuf terkenal, Aristoteles. Tak hanya dikenal sebagai seorang penjelajah, ia pun dikenal sebagai seorang komandan perang terhebat sepanjang masa. Memulai menjadi pemimpin perang sejak kematian ayahnya Filipus II dari Makedonia pada tahun 336 SM.
    Bersamaan dengan penjelajahannya ke seluruh penjuru dunia bersama dengan para pengikutnya, ia pun mengekspansikan kepemimpinannya dengan memerangi setiap daerah yang menjadi tempat yang ia singgahi. Ketika dalam proses penjelajahannya, dari Macedonia hingga sampai setiap tempat yang ia singgahi ia selalu menang dalam setiap peperangan.Karena berkeinginan mencapai “ujung dunia” yakni India, Aleksander pun menginvasi India pada tahun 326 SM, namun terpaksa mundur karena terjadi pemberontakkan terhadap para tentara pengikutnya yang sudah tidak ingin menuruti keinginan darinya, sehingga para pengikutnya pun memutuskan untuk mundur dan kembali ke kampung halaman.
    Dari penjelajahannya itulah banyak yang menginspirasi para penjelajah lain yang ingin membuktikan tentang “ujung dunia” tersebut. Sebenarnya dalam proses penjelajahannya tersebut, mereka tiba di suatu pulau (yang sekarang adalah Negara Indonesia) yang tidak mereka ketahui namun mereka katakan bahwa itulah “ujung dunia” karena jauhnya perjalanan yang telah mereka tempuh dari tempat semula mereka.
    Dalam hal lain pun banyak penjabaran mengenai latar belakang Indonesia.
    • Sebutan “Indonesia” disampaikan oleh J.R Logan dalam “Journal of the Indian Archipelago and East Asia” pada tahun 1850.

    • W.E Maxwell dalam buku penuntun bahasa melayu, pada tahun 1882

    • Adolf Bastian dalam “Indonesien order die inseln des Malaysichen Archipels” tahun 1884-1889
      13935231391841904955
    •  
      Ari P

    Faktor-faktor Penyebab Kemunduran Abbasiyyah

    FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB

    KEMUNDURAN ABBASIYYAH

    - Patut dicatat kemunduran Abbasiyyah tidak berarti berakhirnya kemakmuran; kehidupan intelektual terus berkembang, perekonomian masyarakat tetap membaik; maka kemunduran itu hanya berarti: transformasi sifat kerajaan dan kegagalan mempersatukan kemaharajaan yang luas ke dalam suatu kesatuan politis.

    - Faktor-faktor di sini adalah yang secara jelas menyebabkan keruntuhan Dinasti Abbasiyyah. Mungkin ada pula faktor yang lain, karenanya, sayangnya, subjek ini, masih diteliti secara belum lengkap.

    1. Luasnya wilayah yang harus dikendalikan.

    - Lambatnya komunikasi [tentu saja, antisipasi dan solusi menyertai], meskipun dapat diatasi, oleh karena itu yang paling mendesak adalah

    - suatu tingkat tertentu saling percaya antara: penguasa-penguasa utama dan para pelaksana pemerintahan. Mis.

    - Syari’ah tidak pernah diterapkan dalam hubungan antara para menteri dan pejabat tinggi satu sama lain dan kepada khalifah.

    Imbalan jabatan amat besar, tetapi kesempatan menikmati di masa tua sangat kecil; hukuman mati, penyiksaan, adalah perlakuan biasa terhadap wazir yang diberhentikan; pemenjaraan dan penyitaan harta adalah praktik normal.

    - Akibatnya, setiap orang akan berusaha mencari keuntungannya sendiri dengan merugikan yang lain;

    - Lalu, makin sulit bagi khalifah untuk memperoleh orang-orang yang akan ditunjuk sebagai gubernur propinsi yang bisa dipercaya untuk mengirim ke Baghdad surplus pajak.

    2. Meningkatnya ketergantungan pada tentara bayaran dan, bisa jadi, berkaitan dengan perkembangan teknologi militer.

    - Meskipun masalah ini disadari, tetapi para khalifah tampaknya menganggap tidak mungkin kembali ke model tentara milisi yang terdiri dari warga kota.

    - Maka, menjadi penting bagi khalifah dan gubernur untuk memiliki tentara yang setia pada dirinya pribadi dengan membayar mereka secara tetap.

    - Pemakaian tentara bayaran juga berarti bahwa makin banyak uang dikeluarkan makin kuat tentara yang dimiliki.

    - Maka, untuk mempertahankan posisinya khalifah memerlukan kekuatan militer yang cukup untuk menanggulangi para pembangkang, namun beresiko: semakin beban keuangan sulit diatasi.

    - Barangkali, karena adanya esprit de corps, para tentara jauh lebih dekat dengan perwira-perwira yang berasal dari ras yang sama ketimbang “orang asing” yang berwenang; maka, sebenarnya, hanya uanglah yang bisa membeli kesetiaan mereka.

    3. Yang terpenting adalah faktor keuangan.

    - Sampai dengan 919 uang dalam jumlah besar masih dikirim ke Baghdad.

    - Namun, menjadi kebiasaan untuk mengumpulkan uang ini melalui “sistem pemborongan” pajak; kadang-kadang hak untuk mengumpulkan pajak dalam satu daerah diborongkan pada para pemimpin tentara yang dianggap efisien.

    - Ketika kekuatan militer merosot, khalifah tidak sanggup mengirim militer untuk memungut pajak, maka pemasukan menurun; dan ini bisa berarti ada pemberontakan oleh tentara atau kekuatan militernya berkurang sehingga berkurang pula kemampuannya mengumpulkan pajak.

    - Yang terjadi kemudian: penerapan denda yang besar atau menyitanya begitu saja dari orang-orang kaya yang, betapapun juga, kekayaaannya mungkin didapat secara tidak sah.

    - Cara lain: tentara diberi tanah bukan uang, dan ini, pada gilirannya mengurangi jumlah yang harus dibayar ke perbendaharaan negara.

    Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775-786 M), Harun al-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wasiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).
    Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni.
    Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran, obat dan falsafah.
    Dari gambaran diatas terlihat bahwa, Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah.
    Kehancuran Dinasti Bani Abbas
    Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali Dinasti islam berdiri. Ada diantaranya dinasti yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah islam, yang disebut masa pertengahan.
    Sebagaimana

    1. Persaingan Antarbangsa
    Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-saama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska,11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional.
    Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.
    Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat.12 Akibatnya, disamping Fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah.
    Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah Al-Mutawakkil, seorang khlaifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat.

    2. Kemerosotan Ekonomi
    Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.
    Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan Negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi.

    3. Konflik Keagamaan
    Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas, sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya, mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak.
    Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah, sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah.
    Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja, tetapi juga antaraliran dalam Islam. Mu`tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf.
    Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:
    “Agama Muhammad Saw. seperti juga Agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

    4. Ancaman dari luar
    Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. Disamping itu, ada pula factor-faktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama, perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Namun, di antara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu.13
    Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki yerussalem.
    Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah, yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya, sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan, dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur, terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah.
    Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya, al-Amin, dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun, seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. Setelah kematian Harun, al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Akibatnya pecahlah perang sipil. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad, sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. Al-makmun berhasil mengalahkan saudara tuanya, al-Amin , dan mengklaim khilafah pada tahun 813. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya.
    Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. Kebijakan ini, sebagaimana yang telah kita lihat, tidak membawa hasil dan gagal. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik, untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak, al-Makmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan, yang bernama Thahir, yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya, selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besa

    1. Persaingan Antarbangsa
    Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-saama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska,11 ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas `ashabiyyah tradisional.
    Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.
    Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat.12 Akibatnya, disamping Fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu`ubiyah.
    Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah Al-Mutawakkil, seorang khlaifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk pada periode keempat.

    2. Kemerosotan Ekonomi
    Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi.
    Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan Negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi.

    3. Konflik Keagamaan
    Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Gerakan ini dikenal dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang beriman harus diberantas, sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya, mulai polemik tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari kedua belah pihak.
    Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi`ah, sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlussunnah wal Jama`ah.
    Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja, tetapi juga antaraliran dalam Islam. Mu`tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf.
    Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:
    “Agama Muhammad Saw. seperti juga Agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

    4. Ancaman dari luar
    Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. Disamping itu, ada pula factor-faktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama, perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Namun, di antara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib itu.13
    Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Tentara Mongol, setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki yerussalem.
    Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah, yakni kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya, sekaligus juga menyokong kehancuran dan transformasi imperium tersebut. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat berlangsung konsolidasi. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi pemerintahan, dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur, terjadi beberapa peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah.
    Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi sangat kritis. Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya, al-Amin, dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun, seorang gubernur Khurasan dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. Setelah kematian Harun, al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Akibatnya pecahlah perang sipil. Al-amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad, sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. Al-makmun berhasil mengalahkan saudara tuanya, al-Amin , dan mengklaim khilafah pada tahun 813. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya.
    Al-Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan. Kebijakan ini, sebagaimana yang telah kita lihat, tidak membawa hasil dan gagal. Kebijakan ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah.Al-Makmun juga mengambil sebuah kebijakan politik, untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak, al-Makmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan, yang bernama Thahir, yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat diwariskan kepada keturunannya, selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Upaya untuk menyatukan kalangan elit dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besa

    harun A R