Setelah Jakarta jatuh ke tangan Netherland Indie Civil Administratie (NICA), nyawa petinggi Indonesia semakin terancam. Beberapa kali Presiden RI, Sekarno (1901-1970) mendapat teror dan ancaman. Beberapa kali pula mobil yang dikendarainya ditabrak mobil tentara NICA. Beruntung Soekarno masih selamat dari berbagai serangan tentara NICA.Merasa nyawanya dan petinggi negara lainnya terancam, Soekarno (1901-1970) menggelar rapat terbatas pada 3 Januari 1946. Rapat ini untuk mengambil keputusan menyikapi kelanjutan Indonesia setelah Ibukota Negara, Jakarta jatuh ke tangan NICA. Muncul usulan agar petinggi negara boyongan ke daerah lain, dan mengendalikan negara dari daerah itu.
Di antara daerah yang menjadi alternatif adalah Yogyakarta. Sebelumnya Sultan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1912-1988) mengirim utusan ke Jakarta. Utusan ini membawa surat untuk Soekarno yang berisi saran agar ibukota negara dipindah ke Yogyakarta. Rapat malam itu memutuskan semua pejabat negara harus meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta.
Terpilihnya Yogyakarta menjadi ibukota negara baru bukan tanpa alasan. Yogyakarta diapit dua benteng alam, yaitu Gunung Merapi di utara dan Samudra Hindia di selatan. Keberadaan dua benteng alami membuat Yogyakarta tak mudah ditaklukan.
Selain itu, sumber sejarah lain menyebutkan alasan terpilihnya Yogyakarta menjadi ibukota negara alternatif. Ratu Belanda, Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau (1909-2004) sangat dekat dengan Hamengkubuwono IX. Keduanya sangat akrab. Bahkan keduanya satu sekolah sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi di Belanda. Kedekatan ini yang menyebabkan pemerintah Belanda di Indonesia segan menyentuh Hamengkubuwono IX.Setelah peserta rapat setuju, mereka direncanakan pindah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 malam. Soekarno berpesan kepada pejabat negara yang akan menuju Yogyakarta agar tidak membawa bekal apapun. Bahkan Soekarno pun tidak membawa bekal untuk perjalanan menuju Yogyakarta. Setelah dipastikan pindah, pejabat negara bingung cara menempuh perjalanan menuju Yogyakarta. Bila rencana ini bocor dan diketahui NICA, seluruh pejabat negara pasti langsung dibunuh dalam sekali serangan.
Maka disusun rencana nekad. Djawatan Kereta Api (DKA) diminta menyiapkan dua kereta, yaitu KA IL 7 dan IL 8. Dua kereta ini kelak disebut Kereta Luar Biasa. Dua kereta ini harus dimatikan lampunya dan berhenti didekat rumah Soekarno. Saat itu Soekarno, M Hatta (1902-1980), dan seluruh menteri sudah berada di rumah Soekarno. Mereka mengendap-endap menuju gerbong yang sudah disiapkan DKA. Rencana ini memang sukses.Kereta yang ditumpangi rombongan menuju Jakarta melalui jalur selatan Pulau Jawa, dan tiba di Yogyakarta pada keesokan harinya. Dan sekarang para crew yang bertugas di KLB Presiden seolah terlupakan oleh perkembangan jaman.Dan apabila kita tanya mengenai sejarah ini orang senantiasa tidak tahu menahu tentang sejarah ini. Padahal disebut oleh Bapak Soekarno bahwa crew yang bertugas adalah FORMASI BERSEJARAH.Dan inilah para crew yang bertugas mengorbankan jiwa dan raga demi bangsa dan negara.
Kerabat Kerja DKARI yang bertugas dalam Hijrah
KLB Presiden 4 Januari 1946
Pengawas :
1. Soegito (DL)
2. Soedarjo (DL)
3. Soeharjono (DL)
4. B.S Anwir (DL)
5. Mansur Lubis (DT)
1. Soegito (DL)
2. Soedarjo (DL)
3. Soeharjono (DL)
4. B.S Anwir (DL)
5. Mansur Lubis (DT)
Lokomotif :
1. Husin
2. Murtado
3. Mulud
4. Suad
Mekanik :
1. Tukimin
2. Kun Hai
3. Irie
Listrik :
1. Hidajat
Kondektur :
1. Sastrosardono
2. Sujono
Restorasi :
1. Sukatma ( Koki )
2. Moh. Saleh
3. Sulaiman
Pelayan KA :
1. Sapei 7. Rahali
2. Kasban 8. Jiman
3. Amir 9. Slamet
4. Kasim 10. Djahidin
5. Adje 11. Nata
6. Subandi 12. Ilyas
Salah satu tulisan Bapak Presiden Soekarno Mengenai KLB 4 Januari 1946
” Formasi Kereta api yang dinamakan KLB ini, mechanis technis dan personil technis adalah salah satu FORMASI JANG BERSEDJARAH dengan formasi ini saja pada malam 4 Januari 1946 meninggalkan Djakarta dengan tjara rahasia - memindahkan pemerintah Republik Indonesia dari Dari Djakarta ke Djokjakarta dan sedjak itu formasi KLB ini masih sering mendjalankan tugas-tugas jang penting bagi Presiden. Saja bangga kepada KLB ini “
Salah satu tulisan Bapak Presiden Soekarno Mengenai
KLB 4 Januari 1946 ditulis pada tanggal 29 Agustus 1963
“Sesudah sekian tahun lamanya saja tidak naik KLB maka sekarang saja berada lagi dalam KLB keretanja sudah usang. Harus diperbaharui.Tetapi saja lihat semangat Crewnja tetap baik.Saja hargai benar semanagat itu dan mengutjap terima kasihSoekarno
29/8/1963
Ocha S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar